Saat ini perkembangan teknologi pada perangkat bergerak berjalan sangat
cepat sekali, baik dari segi software maupun hardware. Perangkat bergerak dulu
hanya bisa digunakan untuk SMS dan telpon saja, namun sekarang bisa digunakan
untuk browsing, chatting, E-mailing, membuat presentasi, mengedit dokumen,
membuat laporan, dan melakukan hal-hal lain layaknya sebuah komputer. Sedangkan,
komputer yang dulu hanya dapat melakukan operasi-operasi asli compute, sekarang
mulai mendekati fungsi seperti halnya sebuah ponsel. Dari hal-hal yang di atas,
didapatkan kesimpulan bahwa kedua benda tersebut merupakan penggabungan antara
teknologi komunikasi dan koputer. Karena hal tersebut, sekarang banyak
perusahaan-perusahaan besar dalam bidang hardware telekomunikasi seperti Nokia,
Sony (dulu Sony Ericsson), Samsung, LG, Apple, HTC, bahkan perusahaan yang dulu
fokus memproduksi komputer atau laptop, seperti Asus dan Lenovo juga berlomba-lomba
menciptakan perangkat telekomunikasi yang mempunyai kemampuan seperti komputer
yang disebut sebagai Smart Phone, yaitu perangkat bergerak yang mempunyai
kemampuan untuk melakukan pekerjaan dan fungsi layaknya sebuah komputer.
Ditinjau dari
sisi software, teknologi perangkat bergerak ini juga mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Darimana hal ini dapat terlihat?? Hal ini bisa dilhat dari
begitu banyak varian sistem operasi yang bermunculan, seperti windows mobile,
symbian, blackberry, dan yang paling banyak diminati adalah sistem operasi
untuk ponsel yang disebut dengan Android, sebuah sistem operasi yang dirilis
oleh Google. Oleh sebab itu tidak heran bahwa sekarang banyak bermunculan
industri-industri perangkat lunak yang berbasis perangkat bergerak baik untuk
kebutuhan multimedia, game, office, analisis data, education, database, network
dan lain sebagainya. Semua hal itu mungkin terjadi karena ada berbagai sistem
operasi yang memungkinkan pihak ketiga untuk mengembangkan software-software
aplikasi yang nantinya bisa dijalankan pada sistem operasi tersebut.
Dari sekian
banyak sistem operasi yang bermunculan, Android adalah sistem operasi yang
paling populer yang dipakai di banyak perangkat gadget diseluruh dunia. Akan
tetapi menurut Andy Rubin, mantan kepala pengembang android yang kini sudah
berpindah ke posisi lain pada struktur oragnisasi Google itu sebenarnya
mengatakan bahwa Android pada awalanya adalah sistem untuk kamera digital, akan tetapi dalam perkembangannya didesain untuk perangkat mobile. Suatu
keputusan yang sangat penting yang pada akhirnya berbuah kesuksesan besar yang
diraih Android pada saat ini. Keputusan untuk merubah haluan sistem operasi
Android pada saat itu dilakukan karena dinilai cukup pesatnya perkembangan
perangkat mobile dan mulai melambatnya perkembangan Kamera Digital Dunia.
Perusahaan Google untuk android tidak henti-hentinya melakukan
riset untuk mengupdate sistem
operasinya. Di waktu sebelum-sebelumnya android mengeluarkan versi 1.5 Cupcake
, 1.6 Donut , 2.0 Eclair , 2.2 Froyo
(kependekan yoghurt beku ) , 2.3 Gingerbread , 3.0 Honeycomb , 4.0 Ice Cream
Sandwich dan 4.1 Jelly Bean. Nama-nama makanan biasa atau tradisional yang
kemungkinan menjadi makanan khas sebuah negara. Akan tetapi pada hari Selasa (3
September 2013), sehari sebelum Samsung mengumumkan mengenai produk terbarunya
yaitu Galaxy Note 3, Google mengumumkan bahwa versi berikutnya dari Android
akan diberi nama “KitKat”, sebuah nama yang persis dengan coklat bar dari
Nestle yang sudah terkenal hingga pelosok dunia. Sebenarnya perusahaan menolak
untuk mengungkapkan banyak rincian penting mengenai tanggal rilis Android 4.4
KitKat, fitur dan update. Tapi untungnya , pada hari-hari sejak itu, kita mulai
mendapatkan beberapa kejelasan. Berita ini datang sebagai kejutan karena
sebelumnya Google telah menunjukkan bahwa versi 4.4 dari Android OS adalah Key
Lime Pie.
Ini pertama
kalinya sebuah sistem operasi mainstream diberi nama brand yang sebelumnya
berlisensi. Dalam laporannya, BBC mengatakan bahwa direktur Google untuk
Android, John Lagerling, telah menghubungi pihak Nestle pertama kali untuk
membicarakan mengenai nama produknya yaitu KitKat pada bulan November 2012, dan
kesepakatan untuk persetujuan nama itu sendiri diselesaikan di Mobile World Congress di Barcelona pada
Februari 2013. Patrice Bula, presiden marketing Nestle itu sendiri yang
menceritakan mengenai kesepakatan tersebut, dia mengatakan “Dalam waktu kurang
dari sejam, kami langsung mengatakan Let’s
Do It”.
Dalam proses
pencapaian kesepakatan itu tidak ada pertukaran uang yang terjadi, akan tetapi
ada sebuah unsur promosi yang sangat signifikan, yaitu dari 50 juta KitKat bar
yang berada di 19 negara, seperti UK, US, Brasil, India, Jepang dan Rusia nanti
semuanya akan memiliki merek Android
terkemuka dan dalam promosi tersebut ada ditawarkan kepada konsumen atau
pembeli sebuah kesempatan untuk bisa memenangkan Nexus 7 tablet dan kartu
hadiah Google Play. Semua hal tadi dilakukan secara rahasia, bahkan sebagian
besar karyawan Google tidak tahu menahu mengani masalah perubahan nama
tersebut. Sehingga saat berkomunikasi dengan mitra masih banyak yang mengatakan
Key Lime Pie adalah versi sistem operasi terbaru dari Android. Sebuah nama yang
tidak asing didengar di negara bagian Florida, Amerika serikat, karena nama
tersebut adalah nama kue yang menjadi ikon negara tersebut. Setelah lama
dipikir-pikir, Google menyadari bahwa diseluruh dunia ini tidak banyak yang
tahu bahkan sedikit porsentasenya orang yang benar-benar tahu rasa dari Key
Lime Pie.
Saat
ditelisik lagi ke bagian yang lebih dalam dari perusahaan Google, yaitu pada
bagian ruang coding tempat para developer Google bekerja hingga larut malam,
sebenarnya celetukan mengenai nama tersebut muncul di tempat ini. Berawal dari
para staff yang sedang beristirahat tengah malam, menikmati kudapan-kudapan
yang disiapkan oleh pihak Google, dan diantara kudapan-kudapan itu KitKat
adalah salah satu kudapan yang ada. Di tengah-tengah kenikmatan para staff ada
seseorang yang kemudian tiba-tiba mengutarakan sebuah ide brilian untuk memakai
nama KitKat sebagai nama dari versi sistem operasi Android berikutnya. Singkat
cerita, keesokan harinya Lagerling,
direktur Google untuk Android segera ambil tindakan cepat untuk
melakukan telekonferensi dengan pihak Nestle. Dan alhasil dalam waktu 24 jam
kesepakatan itupun terjadi.
Patrice Bula,
chief direktur dari Nestle mengasumsikan bahwa mungkin kerjasama ini akan
menimbulkan resiko. Dia mengatakan bahwa dia mungkin akan dipecat, karena untuk
mempromosikan sebuah merek dengan memakai cara baru menimbulkan resiku yang
tinggi daripada memakai cara-cara tradisional yang sudah sering dilakukan. Akan
tetapi Patrice Bula melihat kesempatan yang baik untuk ini, jadi daripada
melakukan hal-hal yang biasa, dia memutuskan untuk secara langsung terjun
memakai cara baru tersebut untuk memasarkan produk, yaitu menyetujui
kesepakatan yang sudah ditawarkan oleh Google. Karena seperti yang diketahui tadi,
kesepakatan yang dilakukan kedua pihak bukan karena uang, melainkan karena
merasa tertantang untuk melakukan sesuatu yang tak terduga yang sekaligus
menyenangkan.
Langkah yang
dilakukan oleh kedua belah pihak memang banyak menuai pujian, akan tetapi tidak
menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang juga berpikir lain. Ada seorang pakar atau
bisa dikatakan seorang konsultan yang bernama Simon Myers, dia mengatakan bahwa
jika kedua merek dagang digabungkan, semua hal dari kedua merek tersebut akan
ikut terkait pada proses kedepannya, entah itu buruk ataupun baik. Karena jika
salah satu merek dari dua merek tersebut mengalami masalah dalam reputasi,
secara otomatis merek yang satunya akan ikut terpengaruh. Jika diingat-ingat
berita mengenai pihak Nestle beberapa waktu yang lalu, sempat terjadi kasus
ReCall (penarikan kembali produk dari pasar). Kejadian ini terjadi di Amerika,
dimana Nestle pernah melakukan penarikan kembali produk makanan anjing yang
diduga terdeteksi mengandung bakteri Salmonella.
Begitu juga
dengan Google, Google pernah memunculkan kontroversi mengenai produk
Androidnya. Salah satunya berasal dari pihak pemerintah Amerika, yang
mengatakan bahwa Android adalah sistem operasi yang paling banyak diincar
malware daripada sistem operasi yang lain. Google telah mencatat bahwa
sistemnya ini sudah diaktifkan di smartphone atau device yang lain sudah lebih
dari ribuan kali.
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar